AKQ Kembali Dipadati Jamaah, Pengkajian Ilmu Ma’rifat Hadirkan Staf Pribadi Abuya Syech H. Amran Wali Al-Khalidi

ACEH BARAT / Beritaaktual.online

AKQ Kembali Dipadati Jamaah, Pengkajian Ilmu Ma’rifat Hadirkan Staf Pribadi Abuya Syech H. Amran Wali Al-Khalidi. Aceh Barat, 29Juni 2026. Kegiatan rutin mingguan AKQ (Akademi Kehidupan Qur’ani) bersama Jamaah Beut Droe kembali menunjukkan antusiasme yang tinggi. Pengkajian yang berlangsung di Teugu Teuku Umar, Batee Puteh, Aceh Barat, pada Minggu pagi ini kembali dihadiri jamaah dari berbagai kalangan, dengan jumlah peserta yang terus bertambah dari pekan ke pekan.

Pada pertemuan kali ini, AKQ mengangkat tema “Ilmu Ma’rifat: Jalan Mengenal Allah Melalui Bimbingan Mursyid.”

Berbeda dengan pekan-pekan sebelumnya, pengkajian kali ini menghadirkan narasumber yang merupakan staf pribadi Abuya Syech H. Amran Wali Al-Khalidi, yang selama ini aktif mendampingi perjalanan dakwah beliau di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa tujuan utama perjalanan seorang mukmin bukan sekadar menambah pengetahuan agama, tetapi mencapai pengenalan yang benar kepada Allah SWT. Menurutnya, dalam tradisi tasawuf, keberadaan seorang mursyid dipandang penting sebagai pembimbing ruhani agar seorang salik tidak tersesat dalam perjalanan menuju Allah.

“Mencari mursyid bukan untuk mengagungkan manusia, tetapi untuk memperoleh bimbingan dalam menempuh jalan menuju Allah. Sebagaimana dalam ilmu-ilmu lain diperlukan guru, demikian pula dalam perjalanan ruhani diperlukan pembimbing yang telah lebih dahulu menempuh jalan tersebut,” jelas narasumber.

Dalam kesempatan itu, narasumber juga menyampaikan pandangannya mengenai kedudukan Abuya Syech H. Amran Wali Al-Khalidi.

Menurutnya, Abuya Amran bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama dan mursyid, tetapi memiliki kedudukan ruhani yang sangat tinggi. Ia mengatakan bahwa berdasarkan penuturan sejumlah mursyid dari berbagai negara yang pernah berinteraksi dengan Abuya, beliau dipandang sebagai “pimpinan para wali.” Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan yang hidup di kalangan sebagian tokoh tasawuf dan menjadi bagian dari penghormatan mereka kepada Abuya.

Pengkajian berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis. Para peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan mengenai tasawuf, perjalanan ruhani, adab berguru, serta hubungan antara syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat.

Sebagaimana tradisi pembelajaran di AKQ, kegiatan diawali dengan membaca lima ayat Al-Qur’an beserta artinya, dilanjutkan dengan tiga hadis beserta maknanya, Gerakan 15 Menit Membaca, sesi pengkajian utama, diskusi dan refleksi, kemudian ditutup dengan zikir dan doa bersama.

Ustadz Syamsul Kamal menyampaikan bahwa AKQ terus berupaya menghadirkan ruang pembelajaran yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, dengan tetap menjadikan Al-Qur’an, sunnah, dan bimbingan para ulama sebagai landasan utama.

“AKQ dibangun sebagai ruang belajar bersama. Siapa pun dapat hadir untuk menimba ilmu. Yang menjadi pusat perhatian bukan tokohnya, melainkan ilmu yang mendekatkan manusia kepada Allah,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.

Melalui kegiatan rutin tersebut, AKQ berharap semakin banyak masyarakat yang memperoleh pemahaman Islam yang utuh, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat untuk terus menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
( #Rj# )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *