ACEH  

Ketika Semua Ingin Benar, Siapa yang Masih Mau Bijak Kita sibuk mengurus orang lain, namun lupa memperbaiki diri sendiri

 

Aceh Barat Meulaboh – BeritaAktual.Online

Di tengah ruang publik yang semakin riuh oleh perdebatan, ada satu kegelisahan yang jarang diakui secara jujur: kita semakin mudah menilai, tetapi semakin sulit memahami. Kamis ( 02/04/2026 )

 

 

Semua terasa perlu dikomentari.

Semua seolah harus ditanggapi.

Dan diam—perlahan—dianggap sebagai kelemahan.

 

Padahal tidak selalu demikian.

Di balik derasnya arus pendapat, ada sesuatu yang diam-diam bergeser: fokus kita.

Kita tahu banyak tentang orang lain—apa yang salah, apa yang kurang, apa yang perlu diluruskan.

 

Namun pada saat yang sama, kita semakin jarang menoleh ke dalam diri sendiri.

Di situlah, tanpa disadari, persoalan menjadi lebih dalam dari sekadar perbedaan.

 

Buku “Di Jalan yang Berbeda, Menuju Tuhan yang Sama – Jilid 2” karya Ustadz Syamsul Kamal hadir dari kegelisahan itu. Bukan sebagai jawaban yang menghakimi, tetapi sebagai cermin—yang memaksa pembaca untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam.

 

Jika buku sebelumnya berbicara tentang persatuan dalam saf, jilid kedua ini melangkah lebih jauh: menyentuh wilayah yang lebih sunyi, yakni bagaimana manusia menyikapi perbedaan ketika tidak lagi berdiri berdampingan, tetapi berhadapan—di ruang publik, di media sosial, bahkan di dalam pikirannya sendiri.

 

Kita hidup di zaman yang serba cepat.

Cepat membaca.

Cepat merespons.

Cepat menyimpulkan.

 

Namun pemahaman tidak pernah lahir dari tergesa-gesa.

Satu kalimat bisa langsung dihakimi.

Satu potongan informasi bisa segera diyakini.

 

Padahal kebenaran jarang hadir dalam satu sisi. Ia membutuhkan waktu, ketenangan, dan—yang sering hilang—kerendahan hati.

Di titik inilah buku ini berbicara: bahwa persoalan umat bukan semata pada banyaknya perbedaan, melainkan pada cara menyikapinya.

 

Mazhab, misalnya, pada mulanya adalah jalan memahami. Ia hadir untuk memudahkan, bukan memisahkan. Namun dalam praktik, ia sering berubah menjadi identitas—yang dijaga, dibela, bahkan dipertentangkan.

 

Hal yang sama terjadi pada ilmu. Ia seharusnya melahirkan ketenangan. Namun ketika berhenti di kepala dan tidak sampai ke hati, ia justru menjadi alat perdebatan.

Dan di era digital, kecenderungan itu menemukan panggungnya. Komentar menjadi kebiasaan. Reaksi menjadi spontan. Sementara kehati-hatian semakin jarang.

 

Di ruang inilah, satu kalimat bisa menjadi jembatan—atau sebaliknya, menjadi jurang.

Buku ini tidak menawarkan keseragaman. Ia juga tidak mencampuradukkan keyakinan. Yang dihadirkannya adalah ajakan sederhana, namun tidak mudah: menjadi dewasa dalam perbedaan.

 

Dewasa, dalam konteks ini, bukan tentang seberapa banyak seseorang tahu, tetapi tentang bagaimana ia bersikap.

Kapan harus berbicara.

Kapan harus diam.

Kapan harus tegas.

Dan kapan harus lapang.

 

Dalam salah satu refleksinya, buku ini mengingatkan bahwa tidak semua yang bisa dikomentari harus dikomentari. Tidak semua yang dianggap salah harus diluruskan oleh kita. Dan tidak semua adalah urusan kita.

 

Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana. Namun di tengah budaya yang mendorong setiap orang untuk selalu bersuara, ia menjadi pengingat yang tidak ringan.

Pada akhirnya, buku ini tidak sedang berbicara tentang orang lain. Ia berbicara tentang diri pembacanya sendiri.

Tentang bagaimana kita memandang perbedaan.

Tentang bagaimana kita menggunakan ilmu.

Dan tentang bagaimana kita menjaga hati di tengah dunia yang semakin mudah memecah.

 

Karena bisa jadi, yang selama ini kita kira sebagai keberanian, hanyalah ketergesaan dalam menilai. Dan yang kita anggap sebagai pembelaan kebenaran, sering kali hanyalah cara halus untuk memenangkan diri sendiri.

 

Di tengah semua itu, satu pertanyaan tersisa—sederhana, tetapi tidak mudah dijawab:

ketika semua ingin benar,

siapa yang masih mau bijak?

(Rj.tra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *