Banda Aceh – Beritaaktual.Online
Sabtu,11/April/2026
Di tengah riuhnya perbincangan publik tentang JKA/JKN—dibuka pada masa kepemimpinan sebelumnya dan kini diperbarui pada masa kepemimpinan saat ini—kita dihadapkan pada satu pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar kebijakan:
Apakah kita sedang memperjuangkan keadilan… atau sekadar mempertahankan kenyamanan?
Perlu kita jernihkan bersama, bahwa arah kebijakan yang sedang berjalan bukanlah untuk menghapus manfaat yang telah dirasakan masyarakat. Justru sebaliknya—ia adalah upaya untuk menguatkan, merapikan, dan memastikan bahwa manfaat itu benar-benar sampai kepada yang berhak.
Langkah menuju sistem data yang lebih terpadu, transparan, dan terukur menjadi bagian dari ikhtiar ini. Termasuk di dalamnya mulai digunakan pengelompokan tingkat kesejahteraan—yang sering disebut dengan desil—yang secara sederhana membantu melihat siapa yang benar-benar perlu diprioritaskan, dan siapa yang sudah mulai mampu berdiri lebih mandiri.
Namun di sinilah ujian kita semua.
Ketika Hak Orang Lain Menjadi Ujian Diri Sendiri
Dalam kehidupan, sering kali kita tidak merasa sedang mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Karena ia dibungkus dalam sistem, difasilitasi oleh kebijakan, atau dianggap “semua orang juga begitu.”
Padahal dalam nilai agama, ada satu prinsip yang sangat halus namun tajam:
“Dalam harta kita, ada hak orang lain.”
Artinya, bukan semua yang bisa kita ambil itu layak kita ambil.
Sejarah telah memberi kita teladan. Para sahabat dahulu, bahkan ketika memiliki hak, mereka memilih untuk mundur jika khawatir itu akan mengurangi bagian orang yang lebih membutuhkan. Mereka bukan hanya takut kepada hukum manusia—tetapi takut pada hari ketika semua akan dimintai pertanggungjawaban.
Hari di mana tidak ada lagi pembelaan.
Tidak ada lagi opini publik.
Tidak ada lagi pembenaran diri.
Yang ada hanyalah:
Apa yang kita ambil, dan dari siapa kita mengambilnya.
Keadilan Sosial Dimulai dari Kejujuran Pribadi
Kita boleh berdebat tentang kebijakan. Itu sehat dalam demokrasi.
Kita boleh berbeda pandangan. Itu bagian dari dinamika.
Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang:
Kejujuran dalam melihat diri sendiri.
Jika kita termasuk yang sudah cukup,
masihkah kita pantas mengambil yang diperuntukkan bagi yang belum cukup?
Jika sistem sedang diperbaiki agar lebih adil,
apakah kita mendukungnya… atau justru merasa terganggu karena kehilangan “kenyamanan lama”?
Jangan Sampai yang Berisik Mengalahkan yang Benar
Dalam setiap perubahan, akan selalu ada suara-suara.
Sebagian tulus. Sebagian mungkin tidak sepenuhnya.
Kita perlu bijak membedakan:
Apakah narasi yang beredar benar-benar untuk kepentingan rakyat?
Atau ada kepentingan lain yang tersembunyi di baliknya?
Karena yang paling berbahaya bukanlah kebijakan yang berubah—
tetapi ketika persepsi publik diarahkan menjauh dari kebenaran.
Penutup: Kembali ke Nurani
Aceh adalah tanah yang dibangun dengan nilai.
Dengan sejarah perjuangan, pengorbanan, dan iman.
Maka polemik ini bukan sekadar soal program kesehatan.
Ia adalah cermin:
Apakah kita masih menjaga nurani?
Apakah kita masih peka terhadap hak orang lain?
Apakah kita siap mempertanggungjawabkan setiap yang kita ambil?
Mari kita dukung setiap upaya menuju keadilan—
bukan karena siapa yang memimpin,
tetapi karena yang benar memang layak diperjuangkan.
Dan mari kita jaga diri,
agar tidak menjadi bagian dari ketimpangan
yang selama ini kita keluhkan.
(Raja A.)













