ACEH TAMIANG —Beritaaktual.online.
Kisah pilu datang dari Kampung Purwodadi, Kecamatan Kejuruan Muda. Edi (59), seorang warga kurang mampu, terpaksa menahan sakit selama lebih dari dua bulan tanpa berobat ke fasilitas kesehatan, semata-mata karena tidak memiliki biaya sekadar untuk berangkat ke rumah sakit.
15 Oktober 2026
Edi yang sehari-hari hanya bekerja sebagai pencari berondol sawit, kini terbaring lemah. Perut dan kakinya membengkak, ia nyaris tak bisa bangun dari kursi tempatnya beristirahat. Banjir bandang yang melanda wilayah itu sebelumnya juga telah merampas satu-satunya sumber penghasilannya.
Istrinya, Nuraini, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kondisi suaminya.
“Abang sakit sudah dua bulan lebih. Tidak tahu sakitnya apa, perut dan kakinya membengkak, tidak bisa bangun. Kami tidak mampu membawanya berobat. Katanya berobat gratis, tapi kami tidak punya apa-apa. Makan pun hanya nasi saja. Sering saya numpang dapur tetangga untuk masak. Bagaimana saya mau bawa dia ke rumah sakit, di sana pun saya butuh makan. Sampai saat ini kami belum menerima bantuan apa pun,” ucap Nuraini dengan suara bergetar.
Pasangan ini hidup sederhana di rumah sewa senilai Rp1,2 juta per tahun, itu dengan cara bayar cicil, tanpa harta benda dan tanpa penghasilan tetap. Di saat yang paling membutuhkan uluran tangan, keduanya mengaku luput dari pendataan penerima bantuan sosial.
Kondisi ini memunculkan harapan agar pemerintah lebih teliti dan peka dalam pendataan warga kurang mampu. Jangan sampai warga yang benar-benar terpuruk justru terlewatkan dan menanggung penderitaan sendirian. Semoga kisah ini menggugah hati kita semua.












