Aceh Tamiang – Beritaaktual. Online.
Pasca bencana hidrometereologi yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, khususnya di Aceh, harga bahan bangunan mengalami kenaikan tajam dan tidak terkontrol. Kondisi ini menjadi beban berat bagi masyarakat yang sedang berupaya melakukan rehabilitasi dan pemulihan pasca bencana, termasuk di seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tamiang.
Keadaan ini sangat dirasakan warga yang berencana merenovasi hunian yang rusak akibat banjir bandang tanggal 26 November 2025 lalu. Hal yang paling terasa dirasakan oleh penerima bantuan perbaikan rumah kategori ringan dan rusak sedang.
Salah satu warga Kampung Bukit Rata, Syafrudin (45), menyampaikan keluh kesahnya. Menurutnya, bantuan senilai Rp30 juta yang diterima dari pemerintah awalnya dianggap cukup, namun dengan harga bahan yang berlaku saat ini nilainya menjadi jauh berkurang dan tidak mencukupi untuk menyelesaikan pekerjaan renovasi.
“Sekarang semua bahan bangunan naik gila-gilaan, jauh berbeda harga sebelum banjir terjadi. Uang bantuan itu terlihat besar, tapi setelah dibelanjakan sesuai harga sekarang, ternyata jauh dari cukup. Saya berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga. Jangan sampai ada pihak yang mengambil kesempatan di tengah kesusahan korban bencana seperti kami,” ungkapnya penuh harap.
Dari sisi pelaku usaha, kenaikan harga bukan berasal dari kebijakan peningkatan keuntungan pengecer, melainkan akibat tingginya biaya perolehan barang dari pemasok. Salah satu pemilik toko bahan bangunan di wilayah tersebut menjelaskan bahwa kenaikan sudah terjadi sejak jalur pasokan dari pusat distribusi utama seperti Medan mengalami penyesuaian harga.
“Benar adanya kenaikan di seluruh jenis barang. Misalnya semen, dulunya Rp49.000 per sak, sekarang mencapai Rp73.000. Begitu juga seng ukuran 7, 8, hingga 9 kaki yang dulunya dijual masing-masing Rp70.000, Rp80.000, dan Rp90.000 per lembar, kini ikut naik. Besi beton juga mengalami hal serupa. Kita belanja barang di Medan harganya sudah naik, jadi harga jual pun harus disesuaikan agar modal kembali. Persentase keuntungan yang kami ambil tetap sama seperti biasa, tidak ditambah,” jelasnya.
Hingga saat ini, masyarakat di berbagai titik wilayah terdampak masih menanti langkah nyata dari pemerintah. Mereka berharap ada solusi segera yang diambil agar harga bahan bangunan kembali stabil dan tidak lagi membebani warga yang sudah menderita akibat bencana. Pemulihan tempat tinggal dianggap sebagai prioritas utama, sehingga dukungan ketersediaan barang dengan harga wajar sangat dibutuhkan agar proses rehabilitasi berjalan lancar dan tepat sasaran.
Tim Redaksi












