Pelaksanaan Program Pengembangan Lahan Perkebunan Dan Kelola Ikan Paska Bencana Trus Mengalami Kemajuan

Bener Meriah – Beritaaktual. Online. 

Dinas Pertanian Kabupaten Bener Meriah terus mendorong pemulihan sekaligus penguatan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan melalui Program Pengembangan Lahan Perkebunan dan Kolam Ikan. Program yang dilaksanakan dalam kurun 2024–2026 tersebut menyasar sekitar 4.500 kepala keluarga (KK) petani dan pembudidaya ikan di 10 kecamatan. 21 September 2026

 

Program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan, serta kelestarian lingkungan, sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Bener Meriah serta arah RPJMD Kabupaten Bener Meriah Tahun 2025–2029.

 

Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bener Meriah, Uswatun Hasanah, S.Pmp., menyampaikan bahwa program tersebut dirancang secara terintegrasi sehingga pelaksanaannya memberikan dampak pada tiga aspek utama, yakni peningkatan ekonomi masyarakat, penguatan ketahanan pangan, dan perlindungan lingkungan.

 

1. Dampak Ekonomi: Produktivitas dan Pendapatan Petani Meningkat

 

Melalui bantuan bibit kopi arabika unggul, alat pascapanen, serta kegiatan peremajaan lahan, program telah menyentuh sekitar 2.000 hektare lahan perkebunan dengan 3.000 KK penerima manfaat.

 

Berdasarkan data Dinas Pertanian, produktivitas kopi meningkat sekitar 35 persen, dari rata-rata 800 kilogram per hektare menjadi 1.080 kilogram per hektare setelah penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan peremajaan tanaman.

 

Selain itu, pendapatan petani dilaporkan meningkat sekitar 28 persen seiring meningkatnya mutu dan harga jual kopi. Harga jual kopi mutu ekspor meningkat dari sekitar Rp42.000 per kilogram menjadi Rp54.000 per kilogram.

 

Program tersebut juga turut membuka sekitar 450 lapangan kerja baru pada sektor pascapanen, pengolahan, dan pemasaran melalui penguatan kelompok tani.

 

“Dengan bantuan mesin huller dan pulper, petani tidak lagi menjual kopi dalam kondisi asalan. Mutu meningkat, harga jual meningkat, sehingga ekonomi desa ikut bergerak,” ujar Uswatun Hasanah.

 

2. Dampak Ketahanan Pangan: Produksi Ikan Lokal Meningkat

 

Pada sektor perikanan, Dinas Pertanian terus mendorong peningkatan produksi ikan melalui Program Desa Mandiri Ikan dan pengembangan sistem Mina Padi.

 

Untuk mendukung peningkatan produksi, Dinas Pertanian juga mengembangkan penyediaan benih ikan berkualitas, higienis, dan aman bagi pembudidaya melalui Balai Benih Ikan (BBI) Timang Gajah di Kecamatan Gajah Putih dan BBI Teget di Kecamatan Pintu Rime Gayo.

 

Sumber induk ikan antara lain berasal dari bantuan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT). Selain itu, Dinas Pertanian telah menyalurkan sekitar 50.000 ekor benih ikan nila dan ikan mas beserta pakan kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB), serta melaksanakan kegiatan pencetakan kolam masyarakat untuk pengembangan usaha budidaya ikan.

 

Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Pertanian, produksi ikan budidaya meningkat dari sekitar 180 ton per tahun pada 2023 menjadi 558 ton per tahun pada 2025. Pada 2026, produksi ikan Bener Meriah tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga mulai dipasarkan ke wilayah Takengon.

 

Di sisi lain, sekitar 200 hektare lahan sawah dikembangkan dengan sistem Mina Padi, yaitu pola budidaya yang mengintegrasikan produksi padi dan ikan dalam satu lahan sehingga pemanfaatan lahan menjadi lebih optimal.

 

“Ini menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan daerah. Produksi ikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mulai dipasarkan ke luar daerah,” jelasnya.

 

3. Dampak Lingkungan: Mendorong Pertanian Ramah Lingkungan

 

Program pengembangan pertanian dan perikanan juga diarahkan untuk menjaga daya dukung lingkungan serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam.

 

Sekitar 500 hektare lahan diarahkan menuju praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan melalui bantuan pupuk organik dan pelatihan kepada petani. Upaya tersebut ditargetkan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 40 persen.

 

Pengembangan Mina Padi pada sekitar 200 hektare lahan juga diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida karena ikan turut membantu mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Selain itu, pola tersebut diproyeksikan meningkatkan efisiensi penggunaan air.

 

Sementara itu, rehabilitasi sekitar 1.500 hektare lahan tanaman tua dilakukan sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan lahan yang telah tersedia sekaligus mengurangi tekanan terhadap kawasan hulu dan mencegah pembukaan lahan baru.

 

“Kami mendorong petani untuk tidak membuka hutan baru. Lahan yang sudah ada harus dioptimalkan melalui pola tanam yang sesuai, termasuk tumpang sari dan Mina Padi. Ini merupakan investasi untuk generasi mendatang,” tambah Uswatun Hasanah.

 

PASCABENCANA, REHABILITASI SARANA PRODUKTIF MENJADI PRIORITAS

 

Di tengah capaian tersebut, Dinas Pertanian juga menghadapi tantangan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bener Meriah pada 25 November 2025. Bencana tersebut berdampak terhadap sejumlah kolam budidaya ikan dan lahan perkebunan masyarakat.

 

Berdasarkan hasil pendataan awal Dinas Pertanian, sebanyak 320 kolam ikan dan sekitar 450 hektare lahan perkebunan yang terdiri dari tanaman kopi, alpukat, dan kakao terdampak bencana. Kerugian diperkirakan mencapai Rp8,7 miliar dan berdampak terhadap sekitar 1.200 KK petani dan pembudidaya ikan yang kehilangan atau mengalami gangguan terhadap sumber pendapatan utama.

 

Dari sisi ketahanan pangan, produksi ikan lokal dilaporkan mengalami penurunan sekitar 40 persen. Selain itu, pasokan sayuran dari lahan terdampak mengalami gangguan sehingga berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga pangan di wilayah terdampak.

 

Dari aspek lingkungan, longsor dan sedimentasi turut merusak saluran irigasi kolam serta menyebabkan erosi pada sejumlah lahan dengan kemiringan tertentu. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan berupa normalisasi, rehabilitasi, dan konservasi tanah.

 

SATGAS PRR TINJAU LANGSUNG LOKASI TERDAMPAK

 

Sebagai bagian dari percepatan pemulihan, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pemerintah Pusat melakukan mini touring dan evaluasi lapangan ke sejumlah titik terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah pada Selasa, 26 Agustus 2026.

 

Kunjungan tersebut difokuskan pada peninjauan kerusakan infrastruktur produktif masyarakat, khususnya kolam ikan budidaya dan lahan perkebunan yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.

 

Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bener Meriah, Uswatun Hasanah, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat melalui Satgas PRR yang turun langsung melakukan verifikasi kondisi lapangan.

 

“Rehabilitasi kolam yang rusak sangat penting untuk mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya para pembudidaya perikanan yang terdampak bencana. Kami berharap dukungan dan bantuan rehabilitasi ini segera dapat dirasakan masyarakat,” ujar Uswatun Hasanah.

 

TIGA PRIORITAS PERCEPATAN PEMULIHAN

 

Hasil evaluasi lapangan menjadi salah satu dasar dalam mendorong percepatan rehabilitasi sarana produktif masyarakat. Dinas Pertanian bersama Satgas PRR menyepakati tiga prioritas penanganan, yaitu:

 

1. Perbaikan darurat terhadap 150 kolam ikan milik kelompok rentan agar dapat segera digunakan kembali untuk kegiatan budidaya dan penebaran benih.

 

2. Pemberian bantuan bibit dan pupuk untuk sekitar 300 hektare lahan perkebunan yang terdampak bencana.

 

3. Pelaksanaan pelatihan manajemen risiko bencana bagi kelompok tani dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan masyarakat terhadap potensi bencana.

 

“Kami menargetkan dalam dua bulan ke depan sarana produktif masyarakat sudah dapat kembali berfungsi. Dengan demikian, roda ekonomi masyarakat dapat kembali bergerak dan proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat,” tutup Uswatun Hasanah.

 

KOLABORASI MENJADI KUNCI KEBERLANJUTAN PROGRAM

 

Keberhasilan pelaksanaan program tidak terlepas dari kolaborasi antara Dinas Pertanian, pemerintah desa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), kelompok tani, serta Kelompok Usaha Bersama (KUB).

 

Pendampingan dilakukan secara berkala oleh 42 orang PPL untuk memastikan bantuan dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran, produktif, dan berkelanjutan.

 

Ke depan, Dinas Pertanian Kabupaten Bener Meriah menargetkan perluasan program pada 2027 melalui pengembangan sekitar 500 hektare lahan perkebunan baru dan 500 kolam baru. Pengembangan tersebut akan diarahkan pada peningkatan produktivitas, hilirisasi produk pertanian dan perikanan, serta pengembangan sertifikasi produk organik sebagai bagian dari upaya membuka peluang pasar yang lebih luas.***

 

***(HAIDIR)

Visited 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *