ACEH TAMIANG – Beritaaktual. Online.
Proyek pembangunan jalan Alur Sali – Simpang IV Alur Sali Selso I, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menuai sorotan. Pasalnya, meski dikerjakan dengan anggaran APBN tahun 2025 senilai Rp9.249.975.103, hasil pekerjaan hingga Juni 2026 dinilai buruk, tidak selesai, serta tak memenuhi standar konstruksi.
Pantauan di lapangan pada hari minggu tanggal 07/06/2026, menunjukkan permukaan aspal jalan terlihat bergelombang, tidak rata, berpori besar, serta teksturnya tidak seragam. Sambungan antar bagian jalan pun tidak rapi, sehingga berisiko menampung air hujan dan memicu kerusakan lebih cepat. Kondisi ini dikhawatirkan memangkas usia pakai jalan yang dibangun dengan dana besar tersebut.

Selain kualitas yang dipertanyakan, hal mencolok lainnya adalah tidak ditemukannya papan informasi proyek di lokasi, padahal nilai kontrak pekerjaan mencapai lebih dari Rp9 miliar. Papan proyek seharusnya menjadi syarat wajib yang memuat informasi nilai anggaran, pelaksana, waktu pengerjaan, serta sumber dana agar dapat dipantau publik.
Pekerjaan ini dilaksanakan oleh CV. ALINK GENK berdasarkan Nomor Kontrak: EP-01KBKN74JFV48Q17FY8FP5WT8R tertanggal 10 Desember 2025. Saat dikonfirmasi, pemilik perusahaan menolak memberikan penjelasan teknis dan mengarahkan awak media kepada pihak pelaksana di lapangan.
“Konfirmasi Isan saja ya, saya hanya pemilik CV, dia yang pegang pelaksanaan di lapangan,” ucap pemilik CV ALINK GENK.
Sementara itu, Ikhsan selaku pelaksana lapangan mengakui kualitas hasil pengaspalan yang belum sempurna. Melalui pesan singkat, ia menyebutkan pekerjaan terganggu oleh cuaca.
“Iya bang, mau kita bongkar itu karena saat pengaspalan turun hujan. Baik bang, pasti kita perbaiki, ini masih dalam proses pengerjaan,” tulis Ikhsan.
Lokasi pekerjaan berada di sepanjang ruas jalan Alur Sali hingga Simpang IV Alur Sali Selso I, Kecamatan Karang Baru. Pekerjaan dimulai sejak penandatanganan kontrak pada 10 Desember 2025, namun hingga awal Juni 2026 belum rampung dan kualitasnya masih menjadi permasalahan.
Buruknya kualitas hasil pekerjaan diduga kuat disebabkan kurangnya pengawasan ketat selama proses konstruksi berlangsung. Selain itu, pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan saat kondisi cuaca tidak mendukung—seperti saat turun hujan—diyakini menjadi penyebab utama aspal menjadi bergelombang dan berpori besar. Ketidakhadiran papan informasi proyek juga dinilai sebagai bentuk ketidaktransparanan pelaksanaan pembangunan.
Kondisi jalan yang tidak rata dan berpori besar tidak hanya membuat pengguna jalan merasa tidak nyaman dan berisiko kecelakaan, namun juga membuang anggaran negara yang besar secara sia-sia. Jika tidak segera diperbaiki sesuai standar, jalan tersebut diprediksi akan cepat rusak dan membutuhkan perbaikan kembali dalam waktu singkat. Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang terkait belum memberikan tanggapan resmi.












