Diduga Proyek Revitalisasi SDN UPT 1 Kuala Pangoh Tak Gunakan RAB, Keuchik Bunin Temukan Sejumlah Kejanggalan

Aceh Timur – Beritaaktual. Online. 

Keuchik Gampong Bunin, Ishak, melakukan pengecekan langsung terhadap proyek revitalisasi SDN UPT 1 Kuala Pangoh, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, pada Jumat (31/7/2026).

 

Kunjungan tersebut dilakukan setelah menerima laporan dari pihak sekolah dan masyarakat terkait dugaan ketidaksesuaian pelaksanaan proyek.

 

Menurut Ishak, laporan yang diterimanya menyebutkan bahwa proyek revitalisasi tersebut diduga tidak menggunakan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan. Selain itu, proyek juga tidak memasang papan informasi proyek sebagaimana lazimnya pekerjaan yang dibiayai oleh pemerintah.

 

“Hari ini kami turun langsung untuk memastikan laporan yang disampaikan oleh kepala sekolah dan masyarakat. Hasil pengecekan di lapangan memang ditemukan proyek tidak memasang papan nama proyek serta terdapat beberapa kejanggalan dalam pelaksanaan pekerjaan,” ujar Ishak.

 

Dari hasil peninjauan, Keuchik Ishak menemukan adanya retakan parah pada dinding beton yang diduga tidak diperbaiki dengan metode penyambungan yang semestinya. Retakan tersebut disebut hanya diplester pada bagian luar tanpa dilakukan penyambungan hingga ke bagian dalam, sehingga dinilai hanya menutupi kerusakan.

 

Selain itu, ia juga menemukan rangka baja lama pada bagian atap yang menurutnya tidak seluruhnya diganti. Pekerja disebut hanya menambahkan beberapa batang baja sebelum pemasangan seng dilakukan.

 

Sementara itu, Putra, yang mengaku sebagai kepala tukang pada proyek tersebut, saat diwawancarai media ini menyatakan dirinya tidak pernah menerima maupun diperlihatkan dokumen RAB selama pekerjaan berlangsung.

 

“Kami tidak pernah diberikan RAB. Selama bekerja di sini kami hanya mengikuti arahan dari Edy selaku pengawas proyek. Apa yang diperintahkan, itu yang kami kerjakan,” kata Putra.

 

Ia menjelaskan bahwa timnya hanya mengerjakan pekerjaan bagian bawah, seperti perbaikan dinding beton, pemasangan granit, kusen, dan jendela. Sedangkan pekerjaan rangka baja dan pemasangan seng dikerjakan oleh kelompok tukang lain.

 

“Itu bukan pekerjaan kami. Kami hanya menangani bagian bawah saja,” ujarnya.

Putra juga mengakui bahwa progres pekerjaan sempat mengalami keterlambatan karena ketersediaan material yang sering terlambat.

“Kami sering menganggur karena material kurang, sehingga pekerjaan tidak bisa maksimal sesuai target,” tambahnya.

 

Usai melakukan pengecekan, Keuchik Ishak menegaskan bahwa proyek revitalisasi sekolah harus dilaksanakan sesuai standar teknis dan tidak boleh dikerjakan asal-asalan, terutama pada bagian struktur bangunan.

 

“Penyambungan beton harus dilakukan dengan benar. Jika tidak sesuai standar, hal itu dapat membahayakan keselamatan siswa maupun guru yang beraktivitas di sekolah ini,” tegasnya.

Ia juga meminta pihak vendor agar selalu berkoordinasi dengan kepala sekolah dan pemerintah gampong selama pelaksanaan proyek.

 

Menurut Ishak, pada tahun 2026 terdapat dua sekolah di Desa Bunin yang mendapatkan program revitalisasi dan keduanya disebut memiliki persoalan serupa, yakni minimnya koordinasi antara pihak pelaksana proyek dengan kepala sekolah maupun perangkat desa.

 

“Kami berharap ke depan pihak vendor dapat bekerja secara terbuka, transparan, serta menjalin koordinasi dengan kepala sekolah, perangkat desa, dan tokoh masyarakat. Dengan begitu, semua pihak dapat saling membantu dan mengawasi agar hasil pembangunan benar-benar berkualitas,” pungkas Keuchik Ishak.

 

Catatan: Pihak vendor, pengawas proyek, maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait temuan tersebut. Demi menjaga keberimbangan informasi, media masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan.

 

Bukhari Muslim MH.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *