ACEH  

Banyak Anak yang Pintar, Tapi Kehilangan Arah, Oleh: Ustadz Syamsul Kamal

0:00

 

Aceh Barat – Beritaaktual.online.

Banyak Anak yang Pintar, Tapi Kehilangan Arah, Oleh: Ustadz Syamsul Kamal

Kita sedang hidup di zaman yang membingungkan, Anak-anak kita semakin pintar, Nilai mereka tinggi. Prestasi mereka membanggakan.

Namun di saat yang sama, semakin banyak dari mereka yang tidak tahu harus ke mana.

Ini bukan kebetulan.Ini adalah hasil dari cara kita mendidik. Kita membesarkan anak-anak untuk menjawab soal,

Jum’at ( 17/04/2026 )

 

bukan untuk menjawab kehidupan.Kita melatih mereka menghafal, tetapi tidak membimbing mereka memahami. Kita mendorong mereka unggul,

tetapi tidak menyiapkan mereka untuk hidup. Akibatnya, lahirlah generasi yang aneh:

pintar, tapi rapuh. cerdas, tapi bingung. berilmu, tapi kehilangan arah. Masalahnya bukan pada anak.

Masalahnya ada pada standar yang kita gunakan. Kita terlalu mudah merasa berhasil ketika anak mendapat nilai tinggi.

Terlalu cepat bangga ketika anak terlihat unggul. Seolah-olah angka di rapor adalah jaminan masa depan.

 

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Hari ini, kita menyaksikan banyak orang yang secara akademik berhasil, namun kesulitan menghadapi kehidupan. Mereka tahu banyak hal,

tetapi tidak tahu bagaimana mengambil keputusan. Mereka berilmu,

tetapi tidak memiliki pegangan. Di sinilah letak kekeliruan yang jarang kita akui: kita mengisi kepala anak,

tetapi lupa membentuk jiwanya.Pendidikan kita padat, tetapi tidak dalam.Anak belajar banyak hal,tetapi tidak semua membekas.

 

Mereka sibuk sepanjang hari,tetapi kosong secara batin.Lebih parah lagi, kita sering tidak merasa ada yang salah.Karena semua terlihat baik-baik saja.

 

Nilai bagus.Prestasi ada.Anak terlihat “berhasil”.Padahal yang tidak terlihat justru lebih penting.Anak yang tidak tahu untuk apa ia belajar.

Anak yang tidak punya arah hidup.Anak yang tidak siap menghadapi kegagalan.Semua itu tidak tercermin dalam rapor.Kita terlalu fokus pada apa yang bisa diukur,dan mengabaikan apa yang menentukan.

Padahal hidup tidak diukur dari angka.Hidup diukur dari:cara seseorang bersikap,cara ia mengambil keputusan,dan arah yang ia pilih.Dan semua itu tidak lahir dari hafalan.

Ia lahir dari pemahaman.Dari kesadaran.Dari makna.Inilah yang hilang dari pendidikan kita hari ini.Kita tidak kekurangan ilmu. Kita kekurangan ilmu yang hidup.Ilmu yang tidak hanya dihafal,tetapi membentuk karakter.

Ilmu yang tidak hanya dipahami,tetapi membimbing langkah.Ilmu yang tidak hanya disimpan,tetapi menghidupkan hati.Tanpa itu, ilmu hanya menjadi beban.Dan anak-anak kita mulai merasakannya.

Mereka lelah,bukan karena tidak mampu,tetapi karena tidak menemukan makna.Mereka belajar banyak,tetapi tidak merasa tumbuh.Mereka tahu banyak,tetapi tidak merasa kuat.Dan kita terus mendorong mereka…

tanpa bertanya apakah arah yang kita tuju sudah benar.Ini bukan tentang menyalahkan sekolah.Bukan tentang membandingkan pesantren.Ini tentang cara kita melihat pendidikan.

Apakah kita sedang membentuk manusia…atau hanya mengejar pencapaian?Karena keduanya tidak selalu sama.Sudah saatnya kita jujur.

Kita tidak sedang kekurangan anak pintar.Kita sedang kekurangan anak yang tahu untuk apa mereka hidup.

 

Dan selama kita tidak memperbaiki arah ini,kita akan terus menghasilkan generasi yang terlihat berhasil…tetapi kehilangan makna.

Maka mungkin, yang perlu kita lakukan bukan menambah lebih banyak pelajaran.Tetapi menghadirkan lebih banyak makna.

 

Bukan membuat anak tahu lebih banyak.Tetapi membantu mereka memahami apa yang benar-benar penting.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar mengisi pikiran.

Tetapi membentuk manusia yang utuh.(Rj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *