Aceh Barat – Beritaaktual.Online
Rabu, 20 Mei 2026
Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Ustadz Syamsul Kamal meluncurkan buku reflektif bertajuk Qurban: Menyembelih yang Tampak, Melepaskan yang Tersembunyi.
Buku ini hadir sebagai ajakan untuk membangkitkan kembali kesadaran spiritual, sosial, dan makna ibadah qurban di tengah kehidupan masyarakat modern.
Hari Kebangkitan Nasional sendiri diperingati setiap 20 Mei untuk mengenang lahirnya organisasi Boedi Oetomo yang dipelopori tokoh-tokoh seperti dr. Soetomo.
Momentum tersebut menjadi tonggak tumbuhnya kesadaran nasional untuk bersatu, mandiri, dan bangkit melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
Menurut Ustadz Syamsul Kamal, semangat kebangkitan itu tidak hanya relevan dalam konteks bangsa, tetapi juga dalam kehidupan ruhani manusia.
“Kebangkitan sejati bukan hanya tentang bangsa yang merdeka, tetapi juga tentang hati yang hidup, ibadah yang bermakna, dan manusia yang berani memperbaiki dirinya,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.
Dalam buku tersebut, qurban dipandang bukan sekadar ritual tahunan, tetapi jalan pembentukan kesadaran dan perubahan diri. Penulis menegaskan bahwa qurban harus tetap dijaga sebagai syariat yang nyata, sekaligus dihidupkan sebagai proses penyucian hati dan pengendalian ego.
Buku ini membahas berbagai sisi qurban, mulai dari dasar syariat, sejarah Nabi Ibrahim, realitas qurban di tengah masyarakat, hingga kritik sosial yang disampaikan secara halus dan reflektif.
Selain itu, buku ini juga mengangkat isu-isu aktual seperti pengelolaan qurban, amanah panitia, penghormatan terhadap penerima qurban, hingga pentingnya menjaga nilai keikhlasan dalam ibadah.
“Qurban tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus melahirkan kepedulian, keikhlasan, dan keberanian untuk berubah menjadi lebih baik,” katanya.
Dengan pendekatan yang lembut namun tajam, buku ini diharapkan menjadi media muhasabah dan penguatan nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat.
Sebagai pendiri AKQ – Beut Droe / Ngaji Diri, Ustadz Syamsul Kamal berharap buku ini mampu menghadirkan kembali ruh qurban sebagai jalan membangun manusia yang lebih sadar, peduli, dan dekat kepada Allah.
“Jika dahulu kebangkitan nasional melahirkan kesadaran untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, maka hari ini kita juga membutuhkan kebangkitan hati—agar manusia terbebas dari ego, keserakahan, dan kekosongan makna dalam hidup,” tutupnya.
Buku Qurban: Menyembelih yang Tampak, Melepaskan yang Tersembunyi direncanakan hadir dalam bentuk cetak serta media edukasi visual untuk masyarakat luas.**Rj**












