Proyek Revitalisasi PAUD KB Al Mardiyah Jadi Sorotan, Material Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

0:00

ACEH TAMIANG – Beritaaktual. Online.
Proyek revitalisasi pembangunan di PAUD KB Al Mardiyah yang terletak di Kecamatan Tamiang hulu, Aceh Tamiang, yang bersumber dari anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah senilai Rp330.587.000 menjadi sorotan publik. Pekerjaan yang mencakup rehabilitasi ruang kelas dan taman bermain ini diduga kuat menyimpang karena menggunakan material yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.minggu ( 26/04/2026 )

Berdasarkan pantauan di lapangan, ditemukan kejanggalan pada penggunaan bahan bangunan. Alih-alih menggunakan pasir dan kerikil sebagaimana tertulis dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RAB), pelaksana di lapangan justru menggunakan material campuran pasir dan batu atau yang dikenal dengan istilah “sertu”.

Menurut kaidah konstruksi, penggunaan “sertu” tidak lazim dan tidak dikenal sebagai komponen utama struktur bangunan yang membutuhkan kekuatan maksimal. Hal ini menimbulkan dugaan kuat adanya upaya penurunan kualitas pekerjaan demi kepentingan tertentu.

“Kalau dalam gambar kerja dan RAB sudah jelas menyebutkan pasir dan kerikil, maka penggunaan sertu patut dipertanyakan. Ini bisa berpengaruh pada kekuatan dan ketahanan bangunan,” ungkap seorang sumber yang memahami teknis konstruksi.

Jika terbukti melanggar spesifikasi, pihak pelaksana dapat dijerat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi hingga potensi tindak pidana korupsi karena menyalahgunakan anggaran negara.

Menanggapi hal ini, Ketua Yayasan, Pak Sidik, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada pihak pengawas dan konsultan.

“Hubungi aja pengawas kita sama konsultannya. Yang pasti tau sesuai dengan tidak sesuai speknya kan mereka. Kalau sertu itu menurut mereka tdk bisa digunakan, panitia ganti dgn yg lain. Dan siertu itu masih bisa digunakan menimbunan halaman sekolah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak yayasan bersedia mengganti biaya jika terjadi kekeliruan, dan menganggap persoalan ini sudah selesai. Meski demikian, kasus ini menjadi peringatan penting agar pengelolaan anggaran pendidikan senilai ratusan juta rupiah tersebut benar-benar transparan dan sesuai aturan demi keselamatan dan masa depan anak didik.

Liputan : Syafruddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *