ACEH  

Saat DPRA Menyoroti Anggaran JKA, Publik Perlu Melihat Lebih Dalam

0:00

Ustadz Syamsul Kamal

Rabu-29/April/2026

 

Aceh Barat – Beritaaktual.Online.

Di tengah riuhnya perdebatan tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), satu kalimat tiba-tiba mengguncang ruang publik: ada persoalan serius dalam anggaran JKA.

Kalimat itu tidak ringan.

 

Ini datang dari lembaga legislatif, yang memiliki fungsi pengawasan dan tanggung jawab terhadap rakyat.

Dalam sekejap, ia berubah menjadi kegelisahan bersama.

Orang mulai bertanya, mulai curiga, bahkan mulai resah.

 

Namun justru di titik seperti ini, kita diuji

bukan sekadar sebagai masyarakat yang peduli,

tetapi sebagai manusia yang mampu menahan diri untuk tetap jernih.

“Dalam setiap kegelisahan publik, yang paling dibutuhkan bukan reaksi cepat—tetapi kejernihan melihat.”

 

Pernyataan yang disampaikan oleh DPRA tentu harus dihormati sebagai bagian dari fungsi kontrol dalam pemerintahan. Di sana ada kegelisahan yang patut didengar, ada tanggung jawab yang sedang dijalankan.

 

Namun pada saat yang sama, kita juga tidak boleh berhenti hanya pada satu sisi.

Kita perlu melihat lebih dalam:

apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik angka-angka itu?

 

Mengapa anggaran bisa berubah?

Mengapa muncul perbedaan data?

Mengapa komunikasi antar lembaga terasa tidak utuh?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin lebih penting daripada sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.

 

“Masalah besar sering bukan pada siapa yang salah, tetapi pada apa yang belum beres dalam sistem.”

Bisa jadi, yang kita hadapi hari ini bukan semata persoalan niat,

tetapi persoalan tata kelola yang belum sepenuhnya rapi.

 

Dalam sistem yang belum kuat,

angka bisa berubah tanpa penjelasan yang mudah dipahami,

kebijakan bisa bergeser tanpa komunikasi yang utuh,

dan publik akhirnya dibiarkan menebak-nebak.

 

Di ruang seperti itulah, kecurigaan tumbuh.

Dan ketika kecurigaan dibiarkan tanpa penjelasan, hal ini akan berubah menjadi ketidakpercayaan.

 

Di sisi lain, masyarakat juga sedang berada dalam posisi yang tidak mudah.

Sebagian merasa kehilangan.

Sebagian merasa khawatir.

Sebagian lagi merasa tidak lagi terlindungi seperti sebelumnya.

 

Maka ketika muncul pernyataan keras di ruang publik,

ia menemukan tempat yang subur—

karena sudah ada rasa gelisah yang lebih dulu hadir.

Namun kita perlu berhati-hati.

 

Karena tidak semua yang berubah itu berarti hilang.

Dan tidak semua yang hilang itu berarti kesalahan.

“Tidak semua yang berubah adalah kezaliman—kadang itu adalah penataan yang belum sepenuhnya dipahami.”

 

Ada kemungkinan lain yang perlu dilihat dengan jernih:

penyesuaian fiskal,

pergeseran alokasi,

atau bahkan kekacauan administratif yang belum tertata.

 

Jika itu yang terjadi, maka persoalannya bukan langsung pada niat,

melainkan sistem yang harus diperbaiki dengan serius.

Namun jika benar ada penyimpangan,

maka ia harus dibuka seterang-terangnya—tanpa kompromi.

 

Di titik ini, yang paling dibutuhkan bukan keberpihakan,

tetapi kejernihan sikap.

Tidak tergesa menilai.

Tidak pula tergesa menyimpulkan.

Karena kebenaran tidak selalu berdiri di satu sisi.

 

Bisa jadi, ada kekhawatiran yang benar.

Ada kebijakan yang juga punya dasar.

Dan ada sistem yang memang belum selesai diperbaiki.

Yang harus kita jaga hari ini adalah sesuatu yang lebih besar dari sekadar perdebatan:

kepercayaan publik.

 

Kepercayaan itu tidak lahir dari pernyataan yang keras.

Ia lahir dari keterbukaan yang jujur.

Dari angka yang bisa dijelaskan.

Dari kebijakan yang bisa dipahami.

 

Dari proses yang tidak membingungkan.

“Kepercayaan publik tidak dibangun oleh suara yang paling keras, tetapi oleh penjelasan yang paling jujur.”

Maka jalan ke depan seharusnya jelas.

Legislatif perlu terus menjalankan fungsi pengawasan dengan objektif.

 

Eksekutif perlu membuka data dengan transparan dan utuh.

Dan masyarakat perlu diberikan penjelasan yang jernih, bukan sekadar potongan informasi.

 

Karena dalam urusan sebesar ini,

yang paling berbahaya bukan kesalahan itu sendiri,

tetapi ketika kebenaran tertutup oleh kebisingan.

 

Aceh tidak kekurangan orang cerdas.

Yang kita butuhkan hari ini adalah keberanian untuk jujur,

dan kerendahan hati untuk memperbaiki.

Jika ada yang salah—luruskan.

Jika ada yang belum jelas—terangkan.

Jika ada yang belum adil—perbaiki.

 

Karena pada akhirnya,

yang sedang kita jaga bukan hanya anggaran,

tetapi amanah dan kepercayaan masyarakat.

“Yang dipertaruhkan hari ini bukan sekadar angka, tetapi kepercayaan yang tidak mudah dikembalikan.”

Dan itu jauh lebih mahal dari angka berapa pun.

 

.**Rj**^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *