ACEH SINGKIL — beritaaktual.online
Dalam melihat perjalanan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Aceh Singkil, masyarakat perlu sedikit mengubah cara pandang. Penilaian terhadap pemerintah tidak semestinya hanya berangkat dari apa yang belum tercapai, tetapi juga dari proses, arah, capaian, hambatan, serta upaya yang sedang dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan.
Pandangan tersebut disampaikan Dio Fahmizan, ST., Ketua Konservasi Alam Aceh Singkil. Menurutnya, pemerintahan dapat diibaratkan seperti sebuah kapal yang sedang berlayar.
“Kita tidak dapat mengatakan sebuah kapal tidak bergerak hanya karena belum tiba di pelabuhan. Yang perlu dilihat adalah dari mana ia berangkat, ke mana arahnya, seberapa jauh telah bergerak, apa hambatannya, dan apakah navigasinya masih menuju tujuan,” ujarnya.
Menurut Dio, demikian pula halnya dengan pembangunan. Setiap janji politik merupakan komitmen penting kepada masyarakat. Namun, antara sebuah janji dan hasil akhir terdapat proses panjang, mulai dari perencanaan, penganggaran, regulasi, kewenangan, pelaksanaan hingga evaluasi.
Ia menilai proses tersebut perlu dipahami agar masyarakat dapat memberikan penilaian secara lebih adil dan objektif.
Dio kemudian mengibaratkan perjalanan pemerintahan seperti seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Seorang mahasiswa tidak semestinya dinilai hanya dari halaman terakhir skripsinya, melainkan juga dari bagaimana ia merumuskan persoalan, menentukan metodologi, mengumpulkan data, melakukan analisis, menghadapi keterbatasan penelitian hingga menarik kesimpulan.
“Kalau kita hanya melihat halaman terakhir, kita kehilangan seluruh proses yang menghasilkan kesimpulan itu,” katanya.
Karena itu, dalam menilai pemerintahan, menurut Dio, masyarakat perlu mengajukan pertanyaan yang lebih substansial: apa yang sudah dikerjakan, apa yang sedang berjalan, apa yang belum tercapai, apa kendalanya, dan bagaimana upaya untuk memperbaikinya.
“Pertanyaan semacam ini bukan untuk membela pemerintah. Justru untuk membuat penilaian terhadap pemerintah menjadi lebih objektif,” tegasnya.
Dio menambahkan, mendukung pemerintah bukan berarti membenarkan seluruh kebijakannya. Sebaliknya, mengkritik pemerintah juga tidak berarti harus memosisikan diri sebagai pihak yang memusuhi pemerintah.
Menurutnya, dukungan yang sehat adalah dukungan yang tetap memberikan ruang untuk mengoreksi. Begitu pula kritik yang sehat adalah kritik yang tidak menutup ruang untuk memahami persoalan secara utuh.
Dalam konteks tersebut, ia menilai sinergi antara pemerintah, legislatif, masyarakat sipil dan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.
“Pemerintah bekerja sesuai kewenangannya. Kita mengawasi. Legislatif menjalankan fungsi kontrol. Masyarakat sipil memberikan kritik, gagasan, dan perspektif. Perbedaan fungsi tidak harus menghasilkan perbedaan tujuan,” ungkapnya.
Dio berharap ruang publik di Aceh Singkil tidak berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang paling benar atau siapa yang paling salah. Lebih jauh, ruang publik harus mampu melahirkan pertanyaan yang lebih penting, yakni apa yang harus diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.
Sebab, menurut dia, kritik dan dukungan bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi instrumen untuk menguji apakah sebuah kebijakan benar-benar membawa daerah menuju tujuan yang hendak dicapai.
Ia juga mengibaratkan pembangunan seperti sebuah bangunan. Kekuatan sebuah bangunan tidak dapat dinilai hanya dari warna dindingnya. Fondasi, struktur, beban yang ditanggung serta kemampuan bangunan tersebut bertahan dalam jangka panjang juga harus diperhatikan.
“Begitu pula pembangunan Aceh Singkil. Kita tidak cukup bertanya berapa banyak yang telah dibangun. Kita juga harus bertanya seberapa besar manfaatnya, seberapa kuat keberlanjutannya, dan ke mana arah pembangunan tersebut membawa daerah ini,” katanya.
Sebagai bagian dari masyarakat sipil yang bergerak dalam isu lingkungan, Dio juga menekankan bahwa pembangunan tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan alam.
Menurutnya, alam, masyarakat, pemerintah dan seluruh elemen daerah berada dalam satu ekosistem yang saling berkaitan. Karena itu, pembangunan idealnya tidak hanya mengejar capaian jangka pendek, tetapi juga memperhitungkan dampak dan keberlanjutan bagi generasi mendatang.
“Kita boleh berbeda dalam membaca persoalan, tetapi jangan berbeda dalam tujuan. Tujuan kita sama, yaitu melihat Aceh Singkil bergerak menuju keadaan yang lebih baik,” ujarnya.
Pada akhirnya, Dio menegaskan bahwa yang semestinya dimenangkan bukanlah perdebatan, melainkan masa depan daerah.
“Yang harus kita menangkan bukanlah perdebatan. Yang harus kita menangkan adalah masa depan Aceh Singkil.”
Sumber : Dio Fahmizan, ST.
Ketua Konservasi Alam Aceh Singkil
Reports : syahdun












