ACEH  

BUKU BARU USTADZ SYAMSUL KAMAL MENGGUGAT CARA PANDANG UMAT

Meulaboh – Beritaaktual.Online.

Di tengah melimpahnya ilmu agama, semakin banyaknya masjid, ramainya majelis taklim, dan mudahnya masyarakat mengakses berbagai kajian keislaman, muncul sebuah pertanyaan yang dinilai layak menjadi bahan renungan bersama: mengapa berbagai persoalan akhlak, keikhlasan, dan krisis spiritual masih menjadi tantangan dalam kehidupan umat?

 

Kegelisahan tersebut menjadi latar belakang lahirnya buku terbaru karya Ustadz Syamsul Kamal berjudul “Ketika Masjid Menjadi Dunia dan Pasar Menjadi Akhirat: Dunia di Tangan, Akhirat di Hati.”

 

Buku ini mengajak pembaca meninjau kembali pemahaman tentang hubungan antara ibadah, kehidupan dunia, dan orientasi hati berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, sejarah para nabi, kehidupan para sahabat, serta khazanah tasawuf.

 

Menurut Ustadz Syamsul Kamal, buku tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan syariat dengan kehidupan dunia ataupun mengurangi kemuliaan ibadah seperti shalat, zikir, puasa, zakat, dan haji. Sebaliknya, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa nilai suatu amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, tetapi juga oleh keikhlasan dan tujuan yang melatarbelakanginya.

 

«”Untuk siapakah seluruh amal yang selama ini kita kerjakan? Pertanyaan inilah yang menjadi inti perenungan dalam buku ini,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.»

 

Dalam buku tersebut, penulis mengangkat kisah Masjid Dhirar sebagaimana diabadikan dalam Surah At-Taubah sebagai salah satu pelajaran penting bahwa sebuah bangunan yang secara lahir merupakan masjid dapat ditolak oleh Allah karena dibangun bukan atas dasar mencari ridha-Nya, melainkan untuk memecah belah kaum mukmin.

 

“Dan janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya…” (QS. At-Taubah: 108).

 

Menurut penulis, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa Allah tidak hanya melihat bentuk amal, tetapi juga tujuan di balik amal itu.

 

Sebaliknya, buku ini juga menampilkan sejarah para nabi dan sahabat sebagai contoh bahwa aktivitas duniawi dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan hati yang ikhlas. Nabi Yusuf AS memimpin pemerintahan, Nabi Sulaiman AS memimpin kerajaan yang besar, sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Utsman bin Affan RA, dan Abdurrahman bin Auf RA dikenal sebagai sahabat yang memiliki kekayaan, tetapi tetap menjadikan Allah sebagai tujuan utama kehidupan mereka.

 

Buku ini juga mengulas shalat, zikir, puasa, zakat, dan haji dari perspektif penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), dengan penekanan bahwa ibadah bukan hanya persoalan gerakan lahiriah, tetapi juga pembentukan hati yang ikhlas dan akhlak yang mulia.

 

Sebagai landasan utama, buku ini mengangkat firman Allah SWT:

 

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

 

Selain itu, penulis juga mengutip sabda Rasulullah SAW:

 

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

 

Melalui pendekatan yang reflektif dengan dukungan dalil Al-Qur’an, hadis, serta fakta-fakta sejarah Islam, buku ini diharapkan menjadi ruang muhasabah bagi umat agar tidak berhenti pada bentuk ibadah semata, tetapi juga memperhatikan kebersihan hati dan kemurnian niat dalam setiap amal.

 

Buku ini tidak mengajak pembaca meninggalkan dunia. Sebaliknya, buku ini mengajak menempatkan dunia pada posisinya sebagai amanah dan sarana menuju ridha Allah.

 

Sebagaimana pesan utama yang diangkat dalam buku tersebut:

 

“Ketika Allah menjadi tujuan, dunia berubah menjadi kendaraan menuju akhirat. Tetapi ketika dunia menjadi tujuan, bahkan ibadah dapat berubah menjadi dunia.”

 

Melalui buku ini, Ustadz Syamsul Kamal berharap pembaca terdorong untuk menjadikan setiap aktivitas kehidupan—baik di masjid maupun di pasar, dalam ibadah maupun pekerjaan—sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah SWT.

(Raja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *