ACEH  

Yang Tampak Baik-Baik Saja”: Saat Kesalahan Tak Lagi Terasa, Ustadz Syamsul Kamal Ajak Bangsa Bercermin

0:00

Aceh Barat- BeritaAktual Online. 

Di tengah kehidupan yang berjalan seperti biasa—rapat tetap berlangsung, keputusan tetap diambil, dan sistem tampak tertata—sebuah pertanyaan pelan mulai muncul: apakah semua yang terlihat baik, benar-benar baik? ( 09/04/2026 )

 

Pertanyaan itulah yang menjadi napas utama buku reflektif “Yang Tampak Baik-Baik Saja”. Sebuah karya yang tidak datang dengan nada keras, melainkan dengan pendekatan yang tenang—mengajak melihat lebih dalam, tanpa menyudutkan siapa pun.

 

Buku ini tidak berbicara tentang kesalahan dalam bentuk yang gamblang. Ia justru menyentuh sisi yang sering luput: bagaimana sesuatu yang awalnya terasa tidak tepat, perlahan menjadi biasa.

Bagaimana pembenaran kecil yang terus diulang, tanpa disadari, membentuk kebiasaan—dan pada akhirnya menggeser cara pandang terhadap benar dan salah.

Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks, hal seperti ini bukan sesuatu yang asing.

Relasi yang terlalu dekat bisa memengaruhi objektivitas.

Kepentingan hadir dengan bahasa yang lebih halus.

 

Pemberian sulit dibedakan antara ketulusan atau harapan.

Keputusan terlihat sah, namun tidak selalu menenangkan hati.

Di tengah realitas seperti itu, banyak hal tidak lagi hadir dalam bentuk yang jelas.

 

Yang dulu disebut pelanggaran,

kini bisa disebut “bagian dari proses”.

Yang dulu terasa tidak pantas,

kini dianggap “sudah biasa”.

Yang dulu ditolak,

kini cukup dipahami—lalu dibiarkan.

Dan tanpa disadari,

yang berubah bukan hanya keadaan di luar—

tetapi cara kita melihatnya.

Semua tetap berjalan.

Tanpa konflik.

Tanpa suara keras.

Tanpa penolakan berarti.

Karena yang terjadi bukan perubahan yang kasar,

melainkan pergeseran yang pelan.

Dan justru yang pelan itulah

yang sering tidak terasa.

Buku ini tidak hadir untuk menunjuk siapa yang salah.

Ia juga tidak membangun jarak antara “kita” dan “mereka”.

Karena kalau jujur,

hal-hal seperti ini bisa saja dekat dengan kita.

Ia bisa hadir dalam keputusan kecil.

Dalam alasan yang terdengar masuk akal.

Dalam sikap diam yang terasa lebih mudah daripada bertanya.

Dan dari situlah semuanya bermula—

bukan dari niat besar untuk salah,

tetapi dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Namun ada satu hal yang sering kita lupakan.

Bahwa semua yang hari ini terlihat rapi,

tidak berhenti di dunia.

Semua keputusan,

semua pembiaran,

semua yang kita ambil

dan semua yang kita biarkan—

akan kembali diminta pertanggungjawaban.

 

Bukan di hadapan manusia,

tetapi di hadapan Allah.

Di sana, tidak ada lagi istilah.

Tidak ada lagi alasan yang bisa disusun.

Tidak ada lagi kebiasaan yang bisa dijadikan pembenaran.

Yang ada hanyalah apa yang benar-benar terjadi.

Apa yang kita ambil.Apa yang kita biarkan.

Dan apa yang sebenarnya kita ketahui, lalu kita abaikan.

Buku ini tidak datang untuk menakut-nakuti.

Ia hanya ingin mengingatkan dengan pelan:

bahwa yang kecil tidak pernah benar-benar kecil.

bahwa yang biasa tidak selalu benar.

dan bahwa yang rapi tidak selalu jujur.

Karena pada akhirnya,

yang akan kita hadapi bukan apa yang terlihat baik di dunia, tetapi apa yang benar di hadapan-Nya.Dan mungkin,kesadaran itu cukup untuk membuat kita berhenti sejenak

lalu kembali menjagaa pa yang selama ini kita anggap

baik-baik saja. (R.a)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *