Limbah Hitam Pekat Diduga dari Pabrik CBA Cemari Sungai, Petani Pasir Buyut Alami Kerugian 

0:00

SERANG – Beritaaktual.Online.

Ratusan petani di Desa Pasir Buyut, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, resah dan mengalami kerugian akibat pencemaran sungai. Air sungai yang biasa digunakan untuk mengairi sawah kini berubah warna menjadi hitam pekat seperti oli disertai bau tak sedap yang menyengat, diduga kuat berasal dari limbah kawasan industri PT. Centa Brasindo Abadi Chemical Industry (CBA).

Air sungai yang menjadi sumber irigasi utama warga tercemar limbah cair berwarna hitam pekat. Kondisi ini semakin parah saat musim hujan dan terjadi luapan air atau banjir. Akibatnya, air tersebut tidak lagi layak digunakan untuk pertanian.

Para petani warga Desa Pasir Buyut dan sekitarnya. Mereka mengaku hasil panen mengalami penurunan drastis bahkan gagal panen total.

Kasus ini terjadi di wilayah aliran sungai yang melintasi Desa Pasir Buyut, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang. Sumber pencemaran diduga kuat berasal dari kawasan PT. CBA yang berada di kecamatan yang sama.

Keluhan ini disampaikan oleh para petani kepada awak media pada Selasa, 14 April 2026. Mereka menyebutkan masalah ini sudah berlangsung cukup lama dan semakin parah saat terjadi banjir beberapa waktu lalu.

Diduga kuat limbah cair kimia dari kawasan industri PT. CBA meluap atau dibuang ke aliran sungai. Saat banjir, air yang tercampur limbah tersebut masuk ke area persawahan dan perkebunan.

Salah satu petani yang enggan disebutkan namanya menjelaskan, air sungai kini tidak bisa digunakan sama sekali. Jika dipaksakan untuk mengairi sawah, tanaman padi akan mati.

“Airnya hitam pekat seperti oli dan baunya sangat menyengat. Kemarin saat banjir, air limbah ini masuk ke sawah dan menyebabkan padi kami mati. Dulu dari tujuh petak bisa panen 1 ton, sekarang hanya dapat 2 karung saja,” ungkapnya di lokasi.

Kerugian ini dirasakan tidak hanya oleh dirinya, tetapi juga oleh petani lainnya di desa tersebut. Hingga saat ini, tanaman mereka terancam gagal panen akibat kualitas air yang rusak.

Para petani mengaku sudah melaporkan masalah ini hingga ke tingkat Desa dan Kecamatan. Namun sayangnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan nyata atau solusi dari pihak berwenang.

“Kami sudah aduan ke desa dan kecamatan, tapi belum ada tindakan apa-apa. Kami berharap Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait segera turun tangan menindaklanjuti kasus ini, agar nasib kami tidak terus merugi,” harapnya.

Sampai berita ini di terbitkan belum ada jawaban dari pihak pihak terkait.

Media ini membuka hak jawab dan klarifikasi jika ada informasi lebih lanjut.

 

Reporter: Pardi Sahri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *