ACEH  

Banyak Anak Pintar, Tapi Kehilangan ArahBuku Ini Bongkar Penyebabnya

0:00

Sabtu-18-April-2026,

Aceh Barat- Beritaaktual.Online

Ustadz Syamsul Kamal Soroti Krisis Makna dalam Pendidikan saat ini. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, banyak orang tua berlomba-lomba menjadikan anaknya unggul dalam berbagai bidang. Nilai tinggi, prestasi gemilang, dan kemampuan akademik kerap dijadikan ukuran keberhasilan.

 

Namun di balik itu semua, muncul satu pertanyaan mendasar:

Apakah semua itu benar-benar cukup?

Melalui buku terbarunya, “Mengejar Kompetensi yang Kosong”, Ustadz Syamsul Kamal mengangkat realita yang semakin terasa: banyak anak yang terlihat pintar, namun kehilangan arah dalam hidupnya.

 

Banyak Ilmu, Tapi Tidak Membekas

 

Buku ini menggambarkan kondisi yang sering luput disadari. Anak-anak hari ini belajar begitu banyak hal, namun tidak semuanya membekas dalam kehidupan mereka.

Mereka sibuk dengan berbagai aktivitas, dipenuhi pelajaran, namun sering kehilangan makna.

 

“Anak tidak butuh banyak ilmu, tapi ilmu yang hidup,” menjadi pesan utama dalam buku ini.

Ilmu yang tidak hanya dihafal, tetapi:

membentuk karakter,

mengarahkan hidup,

dan menumbuhkan kesadaran.

 

Bukan Menyalahkan, Tapi Meluruskan

 

Buku ini tidak menyalahkan sekolah, tidak pula membandingkan pesantren. Sebaliknya, buku ini mengajak orang tua untuk kembali kepada inti pendidikan yang sebenarnya: membentuk manusia yang utuh.

Manusia yang:

beriman,

beradab,

dan siap menghadapi kehidupan dunia sekaligus akhirat.

 

Krisis Makna dalam Pendidikan

 

Menurut Ustadz Syamsul Kamal, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan pada kurangnya ilmu, tetapi pada hilangnya makna dalam proses belajar.

Banyak anak yang:

pintar secara akademik,

namun rapuh dalam menghadapi kehidupan,

tahu banyak hal,

namun tidak memiliki arah hidup yang jelas.

 

🔻 PENUTUP

Buku ini hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyadarkan.

Sebuah ajakan untuk berhenti sejenak, melihat kembali arah, dan memperbaiki cara kita mendidik anak.

 

Buku ini bukan hanya untuk dibaca,

tetapi untuk direnungkan…

dan dihidupkan dalam kehidupan.

Karena sejatinya pendidikan bukan sekadar mengisi pikiran,

tetapi membentuk manusia yang utuh.

.(Rj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *