Aceh Barat, Beritaaktual.Online.
24 Mei 2026
Kegiatan rutin mingguan AKQ – Akademi Kehidupan Qur’ani bersama Jama’ah Beut Droe melalui Gerakan 15 Menit Membaca terus menunjukkan perkembangan yang positif.
Pengkajian yang berlangsung di Teugu Teuku Umar, Batee Puteh, Aceh Barat, pada Minggu pagi, dihadiri jama’ah dari berbagai latar belakang profesi dan kalangan masyarakat.
Selain meningkatnya jumlah jama’ah laki-laki, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari dosen, jurnalis, pegiat masyarakat, jama’ah dari berbagai majelis pengajian, hingga peserta dari luar daerah. Menariknya, salah satu peserta yang hadir juga merupakan seorang jurnalis yang sebelumnya pernah berkiprah sebagai artis di Jakarta.
Pada pekan ini, AKQ mengangkat tema:
“Saat Hidup Tidak Sesuai Harapan”
Antara Ikhtiar, Takdir, dan Kesehatan Jiwa
Tema tersebut dipilih bertepatan dengan momentum 24 Mei yang diperingati secara internasional sebagai Hari Kesadaran Skizofrenia Sedunia, sebagai ruang refleksi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan jiwa, kesehatan batin, serta cara berpikir yang sehat dalam menghadapi tekanan kehidupan.
Dalam forum tersebut, jama’ah membedah buku karya Ustadz Syamsul Kamal berjudul:
📘 “Apakah Kita Sudah Memahami Ikhtiar dan Takdir Secara Benar?”
AKQ menegaskan bahwa tema tersebut tidak diarahkan untuk menyederhanakan persoalan kesehatan jiwa sebagai persoalan kurangnya iman atau lemahnya spiritualitas semata, melainkan mengajak masyarakat memahami pentingnya keseimbangan antara ikhtiar, sabar, tawakkal, penerimaan terhadap takdir, serta kesehatan mental dan ruhani.
Antusiasme peserta juga terlihat dari kehadiran salah seorang jama’ah bernama Rahmat yang berasal dari Kabupaten Nagan Raya. Rahmat diketahui telah tiba di Meulaboh sehari sebelum kegiatan berlangsung dan memilih menetap untuk menunggu kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu pagi.
Rahmat mengaku pada awalnya dirinya hanya kebetulan melintas dan menganggap kegiatan AKQ sebagai pertemuan biasa.
Namun setelah memutuskan untuk duduk dan mengikuti kegiatan sekitar 30 menit pada pertemuan sebelumnya, ia mengaku mulai merasakan pengalaman yang berbeda.
“Awalnya saya menganggap ini hanya pertemuan biasa. Saya cuma kebetulan lewat dan mencoba ikut duduk. Tapi setelah sekitar 30 menit mengikuti, saya merasa pembahasannya seperti masuk ke kepala dan juga masuk ke hati. Yang membuat saya tertarik, pembahasannya terasa dekat dengan kehidupan, mudah dipahami, dan mudah diaplikasikan, tidak rumit,” ungkap Rahmat.
Dalam pengkajian tersebut, peserta diajak membahas berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari:
tekanan hidup dan rasa kecewa,
kegagalan dan harapan yang tidak tercapai,
hubungan antara ikhtiar dan tawakkal,
cara memandang takdir secara sehat,
hingga bagaimana menjaga ketenangan jiwa di tengah perubahan kehidupan.
Sebagaimana kegiatan sebelumnya, forum tersebut diawali dengan:
📖 mengaji 5 ayat Al-Qur’an beserta artinya,
📚 membaca 3 hadis beserta maknanya,
📘 Gerakan 15 Menit Membaca,
sharing pembelajaran dan refleksi kehidupan,
🤲 serta ditutup dengan zikir dan doa bersama.
Ustadz Syamsul Kamal mengatakan bahwa AKQ dibangun dengan semangat sinergi dan terbuka bagi seluruh kalangan tanpa membedakan latar belakang organisasi maupun kelompok tertentu.
“Prinsip kita sederhana, semua orang sama, semua kita anggap narasumber, dan yang menjadi objek utama bukan manusianya, tetapi kajiannya. Karena hikmah dan pelajaran hidup tidak selalu datang dari orang yang paling banyak bicara, tetapi bisa Allah hadirkan melalui siapa saja,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan bagian dari upaya membangun budaya literasi ruhani dan kesadaran hidup berbasis nilai-nilai Qur’ani.
“Kadang yang membuat manusia paling lelah bukan ujian hidupnya, tetapi cara ia memandang takdirnya,” tambahnya.
Melalui kegiatan rutin tersebut, AKQ berharap dapat menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membantu masyarakat membangun ketahanan batin, kejernihan berpikir, serta kedekatan kepada Allah dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari.**Rj**












